Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia

Penyakit parkinson merupakan salah satu penyakit yang ditandai dengan keadaan degeneratif yang biasanya mengenai jaras ekstrapiramidal yang kandungannya berupa neurotransmitor dopamin dan juga karakternya berupa trias yang biasanya terdiri dari akinesia atua hambatan gerakan, rigiditas, tremor atau gerakan gemetar yang terjadi dari atas ke bawah dan biasanya akan mengenai bajgian anggita gerak atas.

parkinson

Faktor resiko penyakit parkinson pada lansia hingga saat ini belum diketahui, namun penyakit sinfrom rogiditas-akinetik lainya yang meskipun harang, namun sudah diketahui penyebabnya. Terdapatnya minimal dari beberapa suatu kecenderungan genetik yang biasanya akan mengalami perkembangan pada penyakit. Virus dan juga toksin yang akan terlibat dalam penyakit patrkinson ini pada beberapa penelitian.

Faktor resiko penyakit parkinson pada lansia menimbulkan gejala seperti :

  1. Mengeluarkan liur disaat susah menelan makanan atau disfagia
  2. Tremor disaat sedang istirahat
  3. Kaki yang diseret disaat berjalan, rigiditas pada otot dan juga mengalami kekakuan.
  4. Kehilangan refleks postural yang menyebabkan hilangnya keseiimbangan dan juga kecenderungan untuk membungkuk dan menyebabkan postur bungkuk yang terjadi dengan berlebihan tipikal yang biasanya akan terliihat pada mereka yang mengalami dan menderita penyakit parkinson.
  5. Akinesia, merupakan suatu gejala penyakit parkinson ditandai dengan tidak ada gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam keadaan ekspresi atau mimik wajah dan juga gerakan volunter lainnya dan menadakan suatu penyakit.

Faktor esiko epnyakit parkinson biasnaya serinig ditemukan sekitar 1-2% populasi dan biasanya akan mengenai mereka yang berusia lebih dari 60 tahun tanpa adanya suatuu bias dari jenis kelamin yang signifikan. Distribusi dari penyakit parkinson ini biasanya ditemukan diseluruh dunia, walaupun sepertinya lebih sering terjadi di Eropa dan juga Amerikan Utara.

Penatalaksanaan dari penyakit parkinson ini adalah :

  1. Obat dopaminergik (L-dopa) atau jjuga antikolinergik yang bisa diberikan untuk membantu mengurangi gejala
  2. Transplantasi sel dari ganglia basalis atau juga medua adrenal atau tempat yang lain yang merupakan pembentukan dari dopamin janin ke otak pasien atau penyakit parkinson telah berhasil pada beberapa penelitian.
Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Penyakit Parkinson

parkinsonGejala penyakit Parkinson adalah kehilangan neuron di area otak tengah yang dikenal sebagai subtansia nigra. Neuron ini menggunakan dopamine sebagai neurotransmitter dan menonjolkan aksonnya ke thalamus dan area kaudatus dan putamen ganglia basalis. Penyakit Parkinson terjadi ketika sekitar 80% sel yang membentuk subtansia nigra hilang, ada juga penurunan reseptor domapin ganglia basalis. Awitan penyakit biasanya terjadi pada decade keenam atau ketujuh kehidupan.  Penyakit ini adalah penyakit neurodegenerative yang paling sering kedua pada individu dewasa, Walaupun ada sedikit pengaruh genetic pada perkembangan penyakit Parkinson, tamoak sangat terbatas pada penyakit awitan dini (sebelum usia 50 tahun).

Dopamin bekerja sebagai neurotransmitter inhibisi dengan demikian, menurut simulasi dopamine di subtansia nigra dan ganglia basalis menyebabkan ketidakseimbangan antara neurotransmitter inhibisi ini dan neurotransmitter eksitasi asetilkolin, yang menyebabkan tonus otot berlebihan yang ditandai dengan tremor dan rigiditas. Tonus otot wajah yang terfikasasi memperlihatkan tidak adanya keresponsitas emosi walaupun  sering kali  tidak ada deficit emosional atau kognitif pada pasien penyakit Parkinson.

Penyebab gejala penyakit Parkinson tidak diketahui. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, bukti terbaru menunjukkan bahwa terdapat minimal beberapa kecenderungan genetic pada perkembangan penyakit. Virus dan toksin terlibat dalam penyakit ini pada beberapa penelitian.

Gejala penyakit Parkinson dapat terjadi pada individu yang tidak mengalami penyakit ini dan menderita jenis tertentu rauma otak, infeksi,, atau tumor. Demikian juga individu yang mengalami seperti fenotiazin dapat mengalami gejala penyakit Parkinson. Beberapa gejala penyakit Parkinson sekunder dapat diatasi dengan terapi cedera atau infeksi, atau dengan pengangkatan tumor atau penghentian obat, tetapi gejala lain dapat menetap.

Gambaran klinis penyakit Parkinson adalah :

  • Tremor pada saat istirahat
  • Mengeluarkan air liur dan disfagia (kesulitan menelan)
  • Berjalan dengan kaki terseret, rigiditas otot, dan kekakuan
  • Akinesia, yang dijelaskan sebagai tidak adanya gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam ekspresi wajah dan gerakan volunteer lainnya menandakan penyakit.

-          Hilangnya reflex postural sehingga terjadi kehilangan keseimbangan dan kecenderungan untuk membungkuk menyebabkan postur bungkuku-berlebihan tipikal yang terlihat pada pasien penyakit Parkinson.

Karakteristik  tremor dapay berupa lambat, gerakan membalik (pronasisupinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jari terhadao jari-jari seolah-olah memutar sebuah pil diantara hari-jari. Karakteristik ini meningkat bila penderita  sedang berkonsentrasi atau sedang merasa cemas , dan muncul pada saat istirahat.

Karakteristik lain adalah penyakit ini mempengaruhi wajah, sikap tubuh dan gaya berjalan. Penderita mengalami kehilangan ayinan tangan normal sehingga menyebabkan keterbatasan otot, wajah mengalami sedikit ekspresi. Hal ini dapat terlihat saat penderita berbicara wajah mengalami sedikit ekspresi. Hal ini dapat terlihat saat penderita berbicara, wajah penderita seperti topeng (sering mengedipkan mata) raut wajah yang ada muncul sekilas. Penderita mengalami kehilangan reflex postural, berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti di dorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke dapan atau ke belakang) dapat menyebabkan penderita sering jatuh.  Tanda depresi yang muncul pada wajah penderita belum dapat ditetapkan apakah depresi sebagai reaksi terhadap gangguan lainnya.

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Parkinson Indonesia

Penyakit parkinson berasal dari nama seorang dokter Inggris James Parkinson yang merupakan suatu penyakit yang umum dan terdapat di seluruh dunia. Jumlah penderitanya meningkat drastis sesuai usia sampai kira-kira 1 per 200 pada usia di atas 70 tahun. Pada umumnya, penyakit berlangsung progresif (memburuk) secara berangsur selama bertahun-tahun dan pada 40-70% dari penderita disusul dengan keruntuhan mental dan suatu bentuk demensia yang agak berlainan dengan Alzheimer. Setelah rata-rata 10-15 tahun, penyakit selalu berakihir dengan kematian.

Faktor keturunan menurut perkiraan dewasa ini memegang peranan penting pada terjadinya parkinson. Risiko akan dihinggapinya adalah 3 kali lebih besar bila salah satu orang tua atau saudara menderita penyakit ini.

Parkinsonisme atau gejala ekstrapiramidal adalah isitilah yang digunakan bagi sindrom kekakuan hipokinetis dengan ciri-ciri penyakit parkinson yang diakibatkan oleh kelainan di sistem ekstrapiramidal.

Gambar 1: Fase Penyakit Parkinson


Gejalanya

4 (empat) gejala utama penyakit parkinson adalah kekakuan anggota gerak (rigor, hipertonia), mobilitas hilang atau berkurang secara abnormal (bradykinesia), gemetar (tremor) dan gangguan keseimbangan tubuh.

Ciri-ciri lainnya adalah sikap tubuh bongkok, kejang otot, tulisan tangan menjadi halus (micrographia) dan seperti laba-laba (spidery). Sebagai akibat dari kakunya otot muka, penderita berwajah seperti topeng. Bicaranya menjadi monoton dan tidak jelas, juga sekresi air liur berlebihan dan muka berlemak.

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Parkinson Pada Lansia

Parkinson merupakan pergerakan progresif lambat dengan penyebab yang tidak diketahui yang terutama mengenai neuron pards kompakta subtansia nigra yang mengandung dopamin dan berpigmen. Biasanya terjadi pada masa dewasa lanjut tetapi kadang-kadang terjadi sedini dasawarsa keempat. Riwayat keluarga biasanya tidak ada.

Diagnosis ditegakkan secara klinis. Gejala utama adalah tremor saat istirahat yang menyolok (sering berupa pill-rolling yang terutama mengenai tangan dan kaki), bradikisenia, dan kekakuan otot (digambarkan sebagai pipa timah dan roda gigi). Gambaran lainnya adalah wajah topeng, berkurangnya kedipan mata, postur bungkuk, gaya berjalan festinating (bergerak cepat ke depan tanpa mampu mengehentikan, bertambahnya keringat dan air liur. Depresi dan demensia juga bisa ditemukan. Respons yang baik terhadap L-dopa menunjukkan penyakit parkinson.

Penyakit parkinson juga mempengaruhi emosi dan mengganggu kapasitas mental, meskipun diagnosis atas efek ini sulit ditegakkan sehubungan dengan depresi yang menyertai penyakit ini. Parkinson terjadi ketika sel-sel otak yang memproduksi dopamin mati. Kekurangan dopamin menyebabkan sel-sel otak mengalami kerusakan tak terkendali, menyebabkan gangguan pada otot yang menandai kondisi parkindon. Meskipun gejala penyakit ini dapat ditekan dengan terapi menggunakan pbat, seperti deprenyl (selegilin), L-dopa, dan amantadin, penyakit ini tidak dapat disembuhkan.

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Diagnosa Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson bersifat progresif. Pasien yang tidak diterapi biasanya akan mencapai derajat disabilitas berat yaitu imobilitas, disertai risiko yang mengancam nyawa seperti bronkopneumonia, septikemia atau emboli parue, rata-rata setelah 7-10 tahun menderita penyakit parkinson. Terapi saat ini sebagian besar bersifat simtomatik, tetapi mungkin dapat juga memperpanjang harapan hidup rata-rata.

Diagnostik

- Pada pasien dengan gejala mirip parkinson, diagnosis sering dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik. Respons yang positif terhadap levodopa sangat menunjukkan penyakit parkinson.

Pemeriksaan penunjang

- Tidak ada pemeriksaan laboratorium atau pencitraan yang dapat memastikan diagnosis parkinson. Tujuan pemeriksaan tersebut untuk menyingkirkan diagnosis banding.

- Pemeriksaan pencitraan yang dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis parkinson adalah Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon Emission CT (SPECT) tetapi tidak dianjurkan sebagai standar.

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , | Leave a comment

Gejala Penyakit Parkinson

Penyebab penyakit parkinson tidak diketahui. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, bukti terbaru menunjukkan bahwa terdapat minimal beberapa kecenderungan genetika pada perkembangan penyakit ini. Virus dan toksin terlibat dalam penyakit ini pada beberapa penelitian.

Gejala penyakit parkinson dapat terjadi pada individu yang tidak mengalami penyakit ini dan menderita jenis tertentu seperti trauma otak, infeksi atau tumor. Demikian juga, individu yang mengalami skizofrenia dan memerlukan terapi dengan obat psikotropik tertentu seperti fenotiazin dapat mengalami gejala penyakit parkinson. Beberapa gejala penyakit parkinson sekunder dapat diatasi dengan terapi cidera atau infeksi atau dengan pengangkatan tumor atau penghentian obat tetapi gejala lain dapat menetap.

Gambaran klinis

- Tremor pada saat istirahat
- Mengeluarkan air liur dan disfagia (kesulitan menelan)
- Berjalan dengan kaki terseret, rigiditas otot dan kekakuan
- Akinesia yang dijelaskan sebagai tidak adanya gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam ekspresi wajah dan gerakan volunter lainnya, menandakan penyakit.
- Hilangnya refleks postural sehingga terjadi kehilangan keseimbangan dan kecenderungan untuk membungkuk menyebabkan postru bungkuk berlebihan tipikal yang terlihat pada pasien penyakit parkinson.

1. Gejala motorik

- Tremor (patognomonik, menonjol saat istirahat, asimeteris, gerakan volunter berkurang).
- Rigiditas
- Bradikinesia (asimetris, kekuatan normal, gerakan tangkas melambat)
- Postur tubuh dan gaya jalan (menyeret kaki, langkah pendek, gerakan tangan menurun, postur tubuh membungkuk).

2. Gejala nonmotorik

- Ganguan tidur (insomnia, paraisomnia, rapid eye movement (REM) sleep behavior discorder (RBD), gerakan ekstremitas secara periodik saat tidur, sleep apnea, dan vivid dreaming).
- Halusinasi
- Restless Legs Syndrome
- Konstipasi
- Inkontinensia urine
- Drooling
- Disfungsi seksual

3. Gejala psikiatrik

- Depresi
- Demensia
- Psikosis

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Patofisiologi Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson adalah gangguan otak progresif yang ditandai dengan kehilangan neuron di area otak tengah yang dikenal sebagai subtansia nigra. Neuron ini menggunakan dopamin sebagai neurontransmitter dan menonjolkan aksonnya ke talamus dan area kaudatus dan putamen ganglia basalis.

Penyakit parkinson terjadi ketika sekitar 80 % sel yang membentuk subtansia nigra hilang, ada juga penurunan reseptor dopamin di ganglia basalis. Awitan penyakit biasanya terjadi pada dekade keenam atau ketujuh kehidupan. Penyakit ini adalah penyakit neurodegeneratif yang paling sering kedua pada individu dewasa. Walaupun ada sedikit pengaruh genetik pada perkembangan penyakit parkinson, tampak sangat terbatas pada penyakit awitan dini (sebelum usia 50 tahun).

Epidemiologi penyakit parkinson

Penyakit parkinson cukup sering ditemukan, mungkin mengenai 1-2 % populasi berusia lebih dari 60 tahun, tanpa adanya bias jenis kelamin yang signifikan. Distribusi ditemukan di seluruh dunai, walaupun tampaknya lebih sering terjadi di Eropa dan Amerika Utara.

Patologi penyakit parkinson

Penyakit parkinson terutama mengenai neuron dopaminergik yang berproyeksi dari subtansia nigra otak tengah sampai pada striatum ganglia basalis (nukleus kaudatus dan putamen). Secara makroskopis, didapatkan atrofi subtansia nigra pada penyakit parkinson tahap lanjut yang dikenali dari hilangnya pigmetnasi melanin pada regio ini . Secara mikroskopis, didapatkan kerusakan berat neuron pada subtansia nigra dan neuron yang tersisa seringkali mengandung badan inklusi intrasel, yaitu badan Lewy. Gejala penyakit parkinson telihat jika keruskan neuron dopaminergik nigrostriatum telah mencapai 60-80 %.

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment