Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia

Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia – Penyakit parkinson merupakan salah satu penyakit yang ditandai dengan keadaan degeneratif yang biasanya mengenai jaras ekstrapiramidal yang kandungannya berupa neurotransmitor dopamin dan juga karakternya berupa trias yang biasanya terdiri dari akinesia atua hambatan gerakan, rigiditas, tremor atau gerakan gemetar yang terjadi dari atas ke bawah dan biasanya akan mengenai bajgian anggita gerak atas.

Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia

Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia

Penyakit Parkinson

Faktor resiko penyakit parkinson pada lansia hingga saat ini belum diketahui, namun penyakit sinfrom rogiditas-akinetik lainya yang meskipun harang, namun sudah diketahui penyebabnya. Terdapatnya minimal dari beberapa suatu kecenderungan genetik yang biasanya akan mengalami perkembangan pada penyakit. Virus dan juga toksin yang akan terlibat dalam penyakit patrkinson ini pada beberapa penelitian.

Faktor resiko penyakit parkinson pada lansia menimbulkan gejala seperti:

  1. Mengeluarkan liur disaat susah menelan makanan atau disfagia
  2. Tremor disaat sedang istirahat
  3. Kaki yang diseret disaat berjalan, rigiditas pada otot dan juga mengalami kekakuan.
  4. Kehilangan refleks postural yang menyebabkan hilangnya keseiimbangan dan juga kecenderungan untuk membungkuk dan menyebabkan postur bungkuk yang terjadi dengan berlebihan tipikal yang biasanya akan terliihat pada mereka yang mengalami dan menderita penyakit parkinson.
  5. Akinesia, merupakan suatu gejala penyakit parkinson ditandai dengan tidak ada gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam keadaan ekspresi atau mimik wajah dan juga gerakan volunter lainnya dan menadakan suatu penyakit.

Faktor esiko epnyakit parkinson biasnaya serinig ditemukan sekitar 1-2% populasi dan biasanya akan mengenai mereka yang berusia lebih dari 60 tahun tanpa adanya suatuu bias dari jenis kelamin yang signifikan. Distribusi dari penyakit parkinson ini biasanya ditemukan diseluruh dunia, walaupun sepertinya lebih sering terjadi di Eropa dan juga Amerikan Utara.

Penatalaksanaan dari penyakit parkinson ini adalah :

  1. Obat dopaminergik (L-dopa) atau jjuga antikolinergik yang bisa diberikan untuk membantu mengurangi gejala
  2. Transplantasi sel dari ganglia basalis atau juga medua adrenal atau tempat yang lain yang merupakan pembentukan dari dopamin janin ke otak pasien atau penyakit parkinson telah berhasil pada beberapa penelitian.

Pengobatan Parkinson

Pengobatan yang dilakukan pada penyakit parkinson adalah hingga saat ini masih belum diketahui secara jelas dan tepat. Biasanya pengobatan yang dilakukan hanya bersifat mengendalikan gejala parkinson yang muncul dan membantu meningkatkan kualitas hidup si penderita. Kebanyakan dari pengobatan yang dilakukan berhasil aktif dan mereka bisa mendapatkan kehidupan mereka kembali selama beberapa tahun. Ada beberapa hal yang harus diingat disaat sedang melakukan pengobatan penyakit parkinson yakni adalah :

  1. Berbicara pada dokter yang sudah ahli dalam menangani penyakit parkinson atau ke ahli neurologi untuk mengetahui mengenai pengobatan apa yang paling baik untuk penyakit parkinson.
  2. Obat parkinson yang diberikan adalah obat utama dalam menyembuhkan penyakit parkinson. Cara kerja obat-obatan ini mengembalikan tingkat dopamine yang ada di dalam otak dan juga membantu meniru perilakunya. Namun, efek samping dari obat-obatan ini masih disertai dengan gerakan yang tidak wajar yang dilakukan si penderita tanpa tidak sadar yang disebut dengan dyskinesia, impulsive dan compulsive behaviour.
  3. Operasi bedah otak atau Neurosurgery sebagai salah satu pilihan dalam pengobatan penyakit parkinson tetapi tidak semua orang cocok dengan teknik pengobatan seperti ini. Yang bisa memutuskan hanya dokter dan Andalah mengenai apakah calon yang cocok untuk melakukan pembedahan tadi karena kriteria serta aturan-aturan yang ada. Terdapat 3 bentuk yang paling umum dari pembedahan atau operasi otak misalnya adalah Thalatomy, Pailidotomy, dan Deep brain stimulation.
  4. Physical therapies misalnya seperti melakukan physiotherapy, speech dan language therapy, serta melakukan occupational therapy.
  5. Belajar dalam mengurangi tingkat stres atau depresi yang dirasakan dengan melakukan meditasi atau juga melakukan teknik meditasi yang lain.
  6. Melakukan olahraga secara teratur dan tetap aktif dalam kehidupan sehari-hari.
  7. Mengonsumsi jenis makanan yang sehat dan bernutrisi tinggi
  8. Mendapatkan dukungan serta motivasi dari keluarga.

Tahukah Anda bahwa setiap 1 jam ada 1 orang yang menderita penyakit parkinson di Uk. Dan setiap 1 orang dari 500 orang menderita penyakit parkinson dan sekitar 127.000 di Uk mempunyai atau menderita penyakit ini. Kebanyakan orang dengan riwayat penyakit parkinson biasanya berusia antara 50 tahun dan lebih. Namun bukan tidak mungkin bahwa anak muda bisa saha menderita penyakit ini. Salah satu rirest menunjukkan sekutar 1 dari 20 orang yang usianya dibawah 40 tahun menderita penyakit ini. Penyakit parkinson tidak mengakibatkan munculnya kematian, namun gejala parkinson yang semakin berkembang akan membuat keadaan menjadi semakin memburuk. Selain itu, penyakit parkinson juga tidak mengakibatkan tingkat kepintaran seseorang menurun namun penyakit ini akan membuat si penderita berpikir lambat dan susah untuk memfokuskan konsentrasi dan daya ingatnya yang menurun seperti penyakit alzheimer.

Cara Mencegah Penyakit Parkinson

Terdapat beberapa cara mencegah penyakit parkinson yang bisa dilakukan :

  1. Mengonsumsi teh hijau
    Kandungan polifenol yang ada di dalam teh hijau menunjkkan bukti bisa membantu untuk mengurangi senyawa yang mengandung racun dan membuat fungsi sel-sel saraf di dalam otak mengalami gangguan.
  2. Menerapkan pola hidup yang sehat dan mengonsumsi makanan bernutrisi
  3. Melakukan olahraga dengan teratur

Faktor Resiko Penyakit Parkinson Pada Lansia

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Pada Penyakit Parkinson

Gejala pada penyakit Parkinson adalah kehilangan neuron di area otak tengah yang dikenal sebagai subtansia nigra. Neuron ini menggunakan dopamine sebagai neurotransmitter dan menonjolkan aksonnya ke thalamus dan area kaudatus dan putamen ganglia basalis. Penyakit Parkinson terjadi ketika sekitar 80% sel yang membentuk subtansia nigra hilang, ada juga penurunan reseptor domapin ganglia basalis. Awitan penyakit biasanya terjadi pada decade keenam atau ketujuh kehidupan.  Penyakit ini adalah penyakit neurodegenerative yang paling sering kedua pada individu dewasa, Walaupun ada sedikit pengaruh genetic pada perkembangan penyakit Parkinson, tamoak sangat terbatas pada penyakit awitan dini (sebelum usia 50 tahun).

Gejala Pada Penyakit Parkinson

Gejala Pada Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson

Dopamin bekerja sebagai neurotransmitter inhibisi dengan demikian, menurut simulasi dopamine di subtansia nigra dan ganglia basalis menyebabkan ketidakseimbangan antara neurotransmitter inhibisi ini dan neurotransmitter eksitasi asetilkolin, yang menyebabkan tonus otot berlebihan yang ditandai dengan tremor dan rigiditas. Tonus otot wajah yang terfikasasi memperlihatkan tidak adanya keresponsitas emosi walaupun  sering kali  tidak ada deficit emosional atau kognitif pada pasien penyakit Parkinson.

Penyebab gejala pada penyakit Parkinson tidak diketahui. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, bukti terbaru menunjukkan bahwa terdapat minimal beberapa kecenderungan genetic pada perkembangan penyakit. Virus dan toksin terlibat dalam penyakit ini pada beberapa penelitian.

Gejala pada penyakit Parkinson dapat terjadi pada individu yang tidak mengalami penyakit ini dan menderita jenis tertentu trauma otak, infeksi atau penyakit tumor. Demikian juga individu yang mengalami seperti fenotiazin dapat mengalami gejala penyakit Parkinson. Beberapa gejala pada penyakit Parkinson sekunder dapat diatasi dengan terapi cedera atau infeksi, atau dengan pengangkatan tumor atau penghentian obat, tetapi gejala lain dapat menetap.

Gejala Parkinson

Gambaran klinis penyakit Parkinson adalah :

  • Tremor pada saat istirahat
  • Mengeluarkan air liur dan disfagia (kesulitan menelan)
  • Berjalan dengan kaki terseret, rigiditas otot, dan kekakuan
  • Akinesia, yang dijelaskan sebagai tidak adanya gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam ekspresi wajah dan gerakan volunteer lainnya menandakan penyakit.
  • Hilangnya reflex postural sehingga terjadi kehilangan keseimbangan dan kecenderungan untuk membungkuk menyebabkan postur bungkuku-berlebihan tipikal yang terlihat pada pasien penyakit Parkinson.

Karakteristik  tremor dapat berupa lambat, gerakan membalik (pronasisupinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jari terhadao jari-jari seolah-olah memutar sebuah pil diantara hari-jari. Karakteristik ini meningkat bila penderita  sedang berkonsentrasi atau sedang merasa cemas , dan muncul pada saat istirahat.

Karakteristik lain adalah penyakit ini mempengaruhi wajah, sikap tubuh dan gaya berjalan. Penderita mengalami kehilangan ayinan tangan normal sehingga menyebabkan keterbatasan otot, wajah mengalami sedikit ekspresi. Hal ini dapat terlihat saat penderita berbicara wajah mengalami sedikit ekspresi. Hal ini dapat terlihat saat penderita berbicara, wajah penderita seperti topeng (sering mengedipkan mata) raut wajah yang ada muncul sekilas. Penderita mengalami kehilangan reflex postural, berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti di dorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke dapan atau ke belakang) dapat menyebabkan penderita sering jatuh.  Tanda depresi yang muncul pada wajah penderita belum dapat ditetapkan apakah depresi sebagai reaksi terhadap gangguan lainnya.

Hingga saat ini penyakit parkinson masih sulit untuk dicegah dan disembuhkan karena sampai sekarang penyebab dari penyakit parkinson masih belum diketahui secara jelas. Yang terpenting adalah disaat seseorang kehilangan sekitar 80 persen suplai dopamine, zat yang paling enting dalam proses mengirim sinyal antara sel-sel saraf di dalam otak untuk bisa mengatur suatu gerakan, maka biasanya orang tersebut akan merasakan dan menderita beberapa gejala penyakir parkinson. Yang paling pertama adalah gemetar dengan tidak terkendali dibagian tangan atau kaki saat sedang melakukan istirahat. Dan kedua, biasanya terasa kaku pada anggota gerak, ketiga, gerakan menjadi semakin melambat adanya gangguan saat berjalan dan gangguan pada keseimbangan.

Obat Parkinson

Dalam mengurangi gejala pada penyakit parkinson, maka bisa dilakukan dengan beberapa terapi misalnya adalah :

  1. Levodopa
  2. Carbidopa
  3. Entacapone

Jenis terapi ini bisa membantu untuk mengendalikan dan mengontrol gerakan pada tubuh si penderita penyakit parkinson. Dan selain itu juga, ada suatu terapi musik yang dilakukan untuk membantu mengurangi gejala parkinson dimulai dari gerakan yang dilakukan berdasarkan ritme musik. Terapi ini sudah mulai dilakukan diluar negeri, musik yang disesuaikan dengan kesukaan dari si penderita penyakit parkinson. Karena pemberian dari obat parkinson sifatnya bukan menyembuhkan, namun hanya mengurangi gejala yang muncul supaya tidak semakin parah dan dalam membantu meningkatkan kualitas hidup si penderita.

Usia yang paling rentan untuk seseorang menderita penyakit parkinson adalah usia 60 tahun, walaupun sekitar 1-20 kasus menunjukkan parkinson bisa menyerang pasien yang beruaik 40 tahun. Pravalensi dari penyakit parkinson di dunia bisa mencapai sekitar 6,3 juta. Dan sekitar 1,6 dari 100 orang yang berusia diatas 65 tahun dan 1 per 50 orang yang berusia diatas 80 tahun akan terserang penyakit parkinson. Walaupun secara ilmu pengetahuan penyakit parkinson masih tidak diketahui cara pencegahannya, namun ada baiknya dengan cara pendekatan lingkungan. Memelihara lingkungan sekitar Anda dengan lebih baik, dan sebaiknya jangan membuang batre bekas atau juga menggunakan atau menyemprotkan pestisida dengan sembarangan.

Gejala pada Penyakit Parkinson

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Parkinson Indonesia

Penyakit Parkinson Indonesia – Penyakit parkinson berasal dari nama seorang dokter Inggris James Parkinson yang merupakan suatu penyakit yang umum dan terdapat di seluruh dunia. Jumlah penderitanya meningkat drastis sesuai usia sampai kira-kira 1 per 200 pada usia di atas 70 tahun. Pada umumnya, penyakit berlangsung progresif (memburuk) secara berangsur selama bertahun-tahun dan pada 40-70% dari penderita disusul dengan keruntuhan mental dan suatu bentuk demensia yang agak berlainan dengan Alzheimer. Setelah rata-rata 10-15 tahun, penyakit selalu berakihir dengan kematian.

Penyakit Parkinson Indonesia

Penyakit Parkinson Indonesia

Penyakit Parkinson

Faktor keturunan menurut perkiraan dewasa ini memegang peranan penting pada terjadinya parkinson. Risiko akan dihinggapinya adalah 3 kali lebih besar bila salah satu orang tua atau saudara menderita penyakit ini.

Parkinsonisme atau gejala ekstrapiramidal adalah isitilah yang digunakan bagi sindrom kekakuan hipokinetis dengan ciri-ciri penyakit parkinson yang diakibatkan oleh kelainan di sistem ekstrapiramidal.

Gejala Penyakit Parkinson

4 (empat) gejala utama penyakit parkinson adalah kekakuan anggota gerak (rigor, hipertonia), mobilitas hilang atau berkurang secara abnormal (bradykinesia), gemetar (tremor) dan gangguan keseimbangan tubuh.

Ciri-ciri lainnya adalah sikap tubuh bongkok, kejang otot, tulisan tangan menjadi halus (micrographia) dan seperti laba-laba (spidery). Sebagai akibat dari kakunya otot muka, penderita berwajah seperti topeng. Bicaranya menjadi monoton dan tidak jelas, juga sekresi air liur berlebihan dan muka berlemak.

Untuk kasus penyakit parkinson Indonesia terbilang banyak jumlah penderitanya. Di Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo saja setiap bulannya terdapat 40-50 kunjungan pendrita penyakit parkinson dan terdapat 3 kasus penyakit parkinson yang baru. Sedangkan di dunia sendiri angka untuk penyakit parkinson ini bisa mencapai 4 juta orang penderitanya! Bukan jumlah yang sedikit bukan? Penyakit parkinson sendiri memppunyai dimensi gejala klinis yang luasnya sangat besar sehingga bisa membuat kualitas hidup seseorang terpengaruh untuk penderita atau juga pada keluarganya. Walaupun bukan salah satu jenis penyakit yang membahayakan dan mematikan, penyakit parkinson bisa membuat kualitas hidup seseorang menjadi terganggu dan menurun. Karena semakin lama si pendrita tidak akan bisa melakukan apa yang orang lain lakukan dalam keadaan normal dan paling utama adalah dalam hal berhubungan dengan suatu gerakan.

Penyakit parkinson Indonesia hingga saat ini juga masih sulit untuk didiagnosis. Namun terdapat beberapa gejala yang umum dan khas dari penyakit parkinson ini. Banyaknya pasien dengan kasus rigiditas otot atau terjadinya kekakuan pada anggota gerak, mengalami bradikinesia atau gerakan yang semakin melambat, gangguan saat berjalan atau berjalan yang tidak benar, dan terjadinya perubahan postur tubuh. Untuk membantu meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai penyakit parkinson Indonesia, ada salah satu yayasan yang bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia atau PERDOSSI dan juga PT. Roche Indonesia. Namun yayasan tersebut adalah Yayasan Peduli Parkinson Indonesia atau YPPI. Program ini mengadakan seminar yang terbuka untuk umum yang diberikan kepada pasien serta unutk keluarga pasien penderita penyakit parkinson. Semakin bertambahnya kepedulian masyarakat mengenai penyakit parkinson ini maka diharapkan masyarakat bisa meningkatkan kualitas hidup si penderita dan bisa menjadi semakin lebih baik lagi karena dukungan dan motivasi yang besar kepada penderita penyakit parkinson haruslah besar untuk membuat keadaan mereka semakin membaik.

Penatalaksanaan Penyakit Parkinson

Petalaksanaan dari penyakit parkinson dibedakan menjadi 3 sifat, yakni adalah :

  1. Simptomatik atau yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki gejala dan tanda penyakit parkinson
  2. Protektif membantu mempengaruhi patofisiologi penyakit
  3. Restoratif yang membantu mendorong neuron baru atau bisa membantu merangsang sistem pertumbuhan dan juga fungsi dari sel nueron yang sudah ada.

Sedangkan pendekatan dari penatalaksanaan penyakit parkinson adalah :

  1. Membantu meningkatkan transmisi dopaminergik dengan jalan : (1) membantu meningkatkan jumlah dopamine di dalam sinaps dengan menggunakan obat parkinson levodopa, (2) memberikan agonis dopamin, (3) meningkatkan terjadinya pelepasan dopamine, (4) menghambat re-uptake dopamine, (5) menghambat terjadinya degradasi dopamine.
  2. Manipulasi neurotransmitter yang bersifat non-dopaminergik dengan menggunakan pemberian obat antikolinergik dan juga obat parkinson lain yang bisa membantu memodulasi sistem yang bersifat non-dopaminergik.
  3. Memberikan terapi yang bersifat simptomati pada gejala dan juga tanda yang berdatangan
  4. Memberikan pemberian obat neuroprotektif pada terjadinya progresi dari penyakit parkinson
  5. Pembedahan secara ablasi atau tallamotomi atau pallidotomi, stimulasi otak bagian dalam, atau melakukan brain grafting.
  6. Terapi dalam mencegah yang dilakukan penghilangan faktor resiko dan juga penyebab dari penykakit parkinson.

Terapi farmakologi yang dilakukan pada penyakit parkinson, biasanya terapi ini dilakukan dengan menggunakan obat parkinson untuk bisa memberikan asupan jumlah dopamine dari luar tubuh untuk membantu mengatasi terjadinya kekurangan jumlah produksi dopamine yang ada di dalam otak. Selain itu juga diperlukan obat yang membantu meningkatkan terjadinya efektivitas dari reseptor atau penerima dopamine di dalam otak sehingga dopamine yang jumlahnya sedikit akan bisa digunakan dengan lebih maksimal lagi. Dan terdapat berbagai sediaan obat yang dijual dipasaran untuk mengobati penyakit parkinson, namun obat yang paling utama untuk penyakit parkinson itu masih obat golongan levodopa.

Harus diketahui adalah parkinson dan depresi akan terjadi dengan bersamaan. Depresi dan stress muncul akibat dari dopamine yang kurang.

Penyakit Parkinson Indonesia

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Parkinson Pada Lansia

Penyakit Parkinson Pada Lansia  – Parkinson merupakan pergerakan progresif lambat dengan penyebab yang tidak diketahui yang terutama mengenai neuron pards kompakta subtansia nigra yang mengandung dopamin dan berpigmen. Biasanya terjadi pada masa dewasa lanjut tetapi kadang-kadang terjadi sedini dasawarsa keempat. Riwayat keluarga biasanya tidak ada.

Penyakit Parkinson Pada Lansia

Penyakit Parkinson Pada Lansia

Penyakit Parkinson

Diagnosis Penyakit Parkinson Pada Lansia  ditegakkan secara klinis. Gejala utama adalah tremor saat istirahat yang menyolok (sering berupa pill-rolling yang terutama mengenai tangan dan kaki), bradikisenia, dan kekakuan otot (digambarkan sebagai pipa timah dan roda gigi). Gambaran lainnya adalah wajah topeng, berkurangnya kedipan mata, postur bungkuk, gaya berjalan festinating (bergerak cepat ke depan tanpa mampu mengehentikan, bertambahnya keringat dan air liur. Depresi atau stres dan demensia juga bisa ditemukan. Respons yang baik terhadap L-dopa menunjukkan penyakit parkinson.

Penyakit Parkinson Pada Lansia juga mempengaruhi emosi dan mengganggu kapasitas mental, meskipun diagnosis atas efek ini sulit ditegakkan sehubungan dengan depresi yang menyertai penyakit ini. Parkinson terjadi ketika sel-sel otak yang memproduksi dopamin mati. Kekurangan dopamin menyebabkan sel-sel otak mengalami kerusakan tak terkendali, menyebabkan gangguan pada otot yang menandai kondisi parkindon. Meskipun gejala penyakit ini dapat ditekan dengan terapi menggunakan obat parkinson, seperti deprenyl (selegilin), L-dopa, dan amantadin, penyakit ini tidak dapat disembuhkan.

Salah satu jenis terapi yang bisa diberikan untuk penderita penyakit parkinson adalah dengan terapi musik. Musik merupakan salah satu bentuk terapi yang saat ini ditawarkan dalam mengatasi beberapa penyakit degenerasi otak, misalnya penyakit alzheimer dan penyakit parkinson. Musik dengan jenis ritmik bisa membantu untuk penderita penyakit parkinson dalam mengawali adanya atau terjadinya suatu gerakan. Selain itu, manfaat dari musik untuk penderita penyakit parkinson yang paling utama adalah ritme. Jika bagi kita, angkat kepala merupakan reflek, maka mudah. Namun untuk penyandang penyakit parkinson sangat sulit untuk dilakukan. Hal itulah mengapa musik sangat bermanfaat dan sangat baik untuk bisa mengawali adanya suatu gerakan.

Walaupun begitu, pada penderita penyakit parkinson, mempunyai kepekaan mengenai jenis musik yang berbeda. Ada juga yang lebih peka dengan musik gamelan jawa. Mereka ingat disaat waktu masih kecil senang melakukan tari jawa, Ada yang menyukai musik Cina, musik yang berasal dari Sumatera Barat. Dan musik yang diberikan juga harus sesuai dengan budaya masing-masing pasien penyakit parkinson yang merupakan salah satu bentuk terapi yang baik. Selain jenis musik, suara yang alami juga bisa membantu melatih adanya suatu gerakan pada penderita penyakit parkinson. Musik yang ada suaranya sangat bagus karena dengan adanya suara maka bisa membantu terjadinya suatu gerakan. Suara yang dikeluarkan sendiri oleh kita juga sangat bagus.

Namun saat ini di Indonesia, sayangnya terapi ini masih belum banyak dilakukan dirumah sakit atau juga di klinik yang menyediakan terapi musik untuk penyakit parkinson. Untuk itulah, tips bagi penderita penyakit parkinson yang bisa dilakukan dirumah adalah eksplorasilah berbagai jenis musik, dan temukanlah jenis-jenis musik yang bisa membuat Anda ingin bergerak. Kemudian pilihlah lagi-lagu yang cocok dengan karakter masing-masing penderita penyakit parkinson dan sebaiknya dikumpulkan dalam satu perangkat yang bisa denjgan mudah dibawa kemana-mana misalnya adalah dalam penggunaan i-pod. Selain itu, Anda perlu mengeksplor jenis musik yang bisa membuat penderita penyakit parkinson ingin bernyanyi. Dan sehaiknya penderita penyakit parkinson bergabung dalam suatu komunitas yang tetap melakukan sosialisasi.

Tentang Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson merupakan salah satu jenis penyakit yang menyerang otak. Gejala utama yang paling sering muncul adalah suatu gangguan pada gerakan, misalnya adalah tremor atau gemetar, terjadinya kekakuan sendi dan juga pergerakan pada sistem motorik yang lama kelamaan menjadi semakin melambat sehingga membuat ketidakseimbangan postural yang akan membuat penderita akan dengan mudah jatuh. Walau saat ini penelitian mengenai penyakit parkinson banyak dilakukan, namun untuk penyebab penyakit parkinson sendiri hingga saat ini masih belum diketahui. Namun para ahli menduga bahwa penyakit ini disebabkan karena adanya kombinasi antara berbagai faktor genetik dan juga faktor lingkungan. Kajian yang paling baru mengenai penyakit parkinson mengatakan bahwa terjadinya mutasi genetik unutk gen LRRK2, yakni adalah gen yang bisa mengatur terjadinya suatu pelepasan dopamine dan juga dalam membantu mengontrol gerakan sistem motorik.

Dopamin merupakan salah satu zat kimia yang bisa membantu mengirimkan sinyal ke daerah bagian otak yang bernama korpus striatum. Sinyal inilah yang kemudian akan membantu mebawa otot untuk bisa melakukan suatu gerakan dengan cara yang terkontrol dan juga dengan lebih lancar. Pada penderita penyakit parkinson, terjadinya suatu mutasi yang bisa membuat fungsi normal dari LRRK2 akan mengalami gangguan sehingga akan muncul gangguan pada fungsi motorik misalnya adalah gejala tremor atau gemetar, kekakuan pada sendi tangan dan tungkai serta susahnya mengatur keseimbangan.

Jadi sebaiknya berhati-hatilah dalam mengggunakan beberapa bahan dengan kandungan pestisida di dalamnya karena penumpukkan pestisida di dalam tubuh akan menimbulkan terjadinya penyakit parkinson. Oleh sebab itulah, orang-orang yang pekerjaannya dituntut untuk melakukan kontak langsung dengan pestisida maka mereka harus lebih waspada dan berhati-hati. Radikal bebas dari sisa metabolisme di dalam tubuh atau juga zat beracun pada saraf misalnya pada zat besi, herbisida, pestisida akan menimbulkan masalah terjadinya degenerasi neurin atau pada sel pengatar impuls dalam sistem saraf. Dan terjadinya suatu kerusakan sel otak pada substansia nigra. Hal ini akan berakibat pada kadar dopamin di dalam otak mengalami penurunan.

Penyakit Parkinson Pada Lansia

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Diagnosa Penyakit Parkinson

Diagnosa Penyakit Parkinson – Penyakit parkinson bersifat progresif. Pasien yang tidak diterapi biasanya akan mencapai derajat disabilitas berat yaitu imobilitas, disertai risiko yang mengancam nyawa seperti bronkopneumonia, septikemia atau emboli parue, rata-rata setelah 7-10 tahun menderita penyakit parkinson. Terapi saat ini sebagian besar bersifat simtomatik, tetapi mungkin dapat juga memperpanjang harapan hidup rata-rata.

Diagnosa Penyakit Parkinson

Diagnosa Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson merupakan salah satu bentuk penyakit neurodegeneratif yang biasnaya paling banyak dan paling sering ditemukan di dunia dengan kasus kurang lebih 1% dari seseorang yang usianya diatas 55 tahun menderita penyakit parkinson. Kemunculan dari penyakit parkinson sendiri paling sering terjadi disaat seseorang memasuki usia 60 tahun dan adalah salah satu bentuk penyebab yang paling sering dari gejala parkinsonisme pada seseorang sekitar 75%. Penyakit parkinson diketahui dipicu karena faktor genetik yang secara autosomal resesif atau juga penurunan dopamin yang berjumlah sekitar 5% dari seluruh kasus penyakit parkinson yang terjadi. Pada kasus akibat faktor genetik, umumnya onsetnya pada awlanya terjadi sebelum 45 tahun dan lama kelamaan durinya terjadi dibandingkan dengan penyakit parkinson yang sifatnya sporadik secara umum.

Salah satu studi epidemiologi yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya interaksi secara kompleks dari faktor genetik dan juga lingkungan dalam yang bisa menimbulkan penyakit ini. Dan beberapa faktor resiko dari penyakit parkinson ini biasanya meliputi riwayat keluarga penderita penyakit parkinson, laki-laki, mengalami cedera kepala, terkena paparan pestisisa, mengonsumsi air sumur dan juga kebanyakan yang hidup di desa. Dan sementara itu juga faktor yang bisa mencegah terjadinya penyakit parkinson adalah dengan minum kopi, penggunaan dari obat NSAID, dan juga melakukan terapi pengganti estrogen pada wanita setelah menopause.

Pemeriksaan Parkinson

Pemeriksaan secara mikroskopik yang dilakukan pada otak untuk penderita penyakit parkinson biasanya akan memperlihatkan adanya atrofi yang ringan pada daerah yang frontal dengan kehilangan pigmen melanin yang ada di daerah midbrain saat sedang ditilik secara mikroskopik. Dan selain itu juga, secara mikroskopik juga banyak ditemukan adanya suatu degenerasi sel dopaminergik dan juga keberadaan dari badan Lewy atau Lewy Bodies di dalam neuron-neuron yang masih saja tersisa, proseus substansia nigra pars compacta atau SNpc, nukleus yang lain yang ada di batang otak, serta pada region-region yang lain misalnya adalah otak bagian medial temporal, kortikal dan juga pada sistem limbik.

Badan Lewy biasanya mempunyai tingkat konsentrasi alfa-synuclein dan juga merupakan salah satu bentuk atau penanda secara patologik yang paling utama dari penyakit parkinson ini. Mutasi yang ada pada gen alfa-synuclein bisa membuat penyakit parkinson familial dengan cara mempromosikan alfa synuclein positive filaments yang kemudian akan beragregasi dan berubah menjadi badan Lewt dan neurit Lewy. Hal ini merupakan hal yang pertama terjadi pada nukleus olfaktoriur anterioir dan juga terjadi daerah bawah bawang otak yang paling tepatnya terjadi pada nukleus glossofaringeal dan juga vegal dan berkaitan dengan okus seruleus, n.gigantocellularis, dan nukleus raphe.

Kemudian formasi dari badan Lewy tadi akan mengalami penyebaran ke nukleys magnoseluler didaerah basal forebrain, nukleus sentralis amigdala, dan SNpc tersebut. Jika sudah semakin lanjut, maka biasanya akan menyebar sampai menuju ke thalamus dan juga korteks serebri. Keterlibatan dari daerah ekstranigral inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gejala klinis yang sifatnya non motorik dan juga pada asoek motorik non-responsif yang berhubungan dengan obat parkinson levodopa pada penderita penyakit parkinson.

Kehilangan dari sel dopaminergik di SNpc ini bisa membuat denervasi striatum yang bisa mengakibatkan sistem motorik untuk penderita penyakit parkonson. Biasanya gejala seperti ini akan muncul sesudah terjadinya dopamin yang hilang dengan jumlah sebesar 50-70% dari keadaan normal.

Diagnosa Penyakit Parkinson

Diagnosa penyakit parkinson ini menyimpulkan bahwa kematian dari sel dopaminergik ini adalah vulnerabilitas genetik, stres, oksidatif, disfungsi proteasomal, dan aktivitas kinase secara tidak normal, dan juga faktor lingkungan yang masih saja belum belum teridentifikasi. Stres oksidatif yang mempunyai peran dalam patogenesis penyakit parkinson dimana terjadinya kerusakan yang diinduksi akibat dari radikal bebas biasanya menyebabkan apoptosis sel dini dan terjadinya suatu kegagalan untuk bisa membentuk energi. Salah satu penyebab yang paling penting adalah MPTP, derivat dari mepedrin, dan juga rotonone, insektisida yang biasanya sering untuk digunakan. Keduanya biasanya akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif dengan cara menginhibisi kompleks I mitokondria. Stres oksidatif ini juga biasanya akan menimbulkan terjadinya penumpukan alfa-synuclein dan juga disfungsi proteasomal.

Kriteria dari diagnosa penyakit parkinson yang ditegakkan secara umum adalah dengan menemukan sekitar 2 dari 3 tanda kardinal pada gangguan sistem motorik yakni adalah seperti tremor, rigiditas, dan juga bradikinesia atau juga 3 dari 4 tanda motorik yakni seperti ketiga tanda diatas yang ditambah dengan terjadinya ketidakstabilan.

Diagnosa Penyakit Parkinson

  • Pada pasien dengan gejala mirip parkinson, diagnosis sering dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik. Respons yang positif terhadap levodopa sangat menunjukkan penyakit parkinson.

Diagnosa Penyakit Parkinson dengan Pemeriksaan penunjang

  • Tidak ada pemeriksaan laboratorium atau pencitraan yang dapat memastikan diagnosis parkinson. Tujuan pemeriksaan tersebut untuk menyingkirkan diagnosis banding.
  • Pemeriksaan pencitraan yang dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis parkinson adalah Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon Emission CT (SPECT) tetapi tidak dianjurkan sebagai standar.

Diagnosa Penyakit Parkinson

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , | Leave a comment

Gejala Penyakit Parkinson

Gejala Penyakit Parkinson – Penyebab penyakit parkinson tidak diketahui. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, bukti terbaru menunjukkan bahwa terdapat minimal beberapa kecenderungan genetika pada perkembangan penyakit ini. Virus dan toksin terlibat dalam penyakit ini pada beberapa penelitian.

Penyakit Parkinson

Gejala penyakit parkinson dapat terjadi pada individu yang tidak mengalami penyakit ini dan menderita jenis tertentu seperti trauma otak, infeksi atau tumor. Demikian juga, individu yang mengalami skizofrenia dan memerlukan terapi dengan obat psikotropik tertentu seperti fenotiazin dapat mengalami gejala penyakit parkinson. Beberapa gejala penyakit parkinson sekunder dapat diatasi dengan terapi cidera atau infeksi atau dengan pengangkatan tumor atau penghentian obat tetapi gejala lain dapat menetap.

Gejala Penyakit Parkinson

Gejala Penyakit Parkinson

Gejala Penyakit Parkinson klinis :

  • Tremor pada saat istirahat
  • Mengeluarkan air liur dan disfagia (kesulitan menelan)
  • Berjalan dengan kaki terseret, rigiditas otot dan kekakuan
  • Akinesia yang dijelaskan sebagai tidak adanya gerakan, termasuk gerakan yang terlibat dalam ekspresi wajah dan gerakan volunter lainnya, menandakan penyakit.
  • Hilangnya refleks postural sehingga terjadi kehilangan keseimbangan dan kecenderungan untuk membungkuk menyebabkan postru bungkuk berlebihan tipikal yang terlihat pada pasien penyakit parkinson.

1. Gejala motorik

  • Tremor (patognomonik, menonjol saat istirahat, asimeteris, gerakan volunter berkurang).
  • Rigiditas
  • Bradikinesia (asimetris, kekuatan normal, gerakan tangkas melambat)
  • Postur tubuh dan gaya jalan (menyeret kaki, langkah pendek, gerakan tangan menurun, postur tubuh membungkuk).

2. Gejala nonmotorik

  • Ganguan tidur (insomnia, paraisomnia, rapid eye movement (REM) sleep behavior discorder (RBD), gerakan ekstremitas secara periodik saat tidur, sleep apnea, dan vivid dreaming).
  • Halusinasi
  • Restless Legs Syndrome
  • Konstipasi
  • Inkontinensia urine
  • Drooling
  • Disfungsi seksual

3. Gejala psikiatrik

  • Depresi
  • Demensia
  • Psikosis

Stadium Penyakit Parkinson

Terdapat 5 stadium dalam penyakit parkinson, yakni adalah :

  1. Stadium 1
    Pada stadium ini biasanya gejala dan juga tanda yang ada pada satu sisi yang sifatnya ringan, dan juga adanya suatu gejala yang sangat mengganggu namun tidak menimbulkan terjadinya kecacatan. Biasanya terjadi tremor disalah satu anggota gerak. Gerakan yang muncul akan mudah dikenali oleh orang terdekat si pasien.
  2. Stadium 2
    Pada stadium ini baisanya akan menunjukkan gejala bilateral, kecacatan secara minimal, dan juga pada sikap serta cara dalam berjalan yang mengalami gangguan.
  3. Stadijm 3
    Pada stadium ini akan terjadi gerakan tubuh yang lama kelamaan menjadi semakin melambat, keseimbangan yang mengalami gangguan saat sedang berjalan atau juga saat sedang berdiri dan mengalami disfungsi umum dengan tingkat sedang.
  4. Stadium 4
    pada stadium ini gejala yang terjadi menjadi semakin berat, namun masih bisa berjalan hanya untuk jarak tertentu saja, terjadinya rigiditas dan juga bradkinesia, yang tidak bisa berjalan dengan sendirinya, dan gejala tremor atau gemetar yang bisa berkurang dibandingkan dengan stadium sebelumnya yang terjadi.
  5. Stadium 5
    Pada stadium kakhetik atau chacetic stage ini, kecacatan yang terjadi secara total, tidak bisa berdiri sendiri dan tidak bisa berjalan dengan sendirinya serta memerlukan perawatan dengan tetap.

Penyakit parkinson sudah diketahui merupakan sekelompok dari suatu kondisi yang disebut dengan gangguan pada gerakan. Gangugan pada gerakan yang menggambarkan berbagai jenis gerakan tubuh secara tidak normal yang mempunyai dasar secara neurologis dan juga termasuk salah satu kondisi seperti cerebral palsu, ataksia, dan juga sindrom Tourette. Penyakit parkinson merupakan hasil dari stimulasi penurunan pada korteks yang bermotor oleh ganglia basal, dan biasanya diakbatkan karena pembentukan yang cukup dari aksi dopamine.

Penyakit parkinson adalah sebuah sindrom neurologis yang biasanya disebabkan kakrena kekurangan jumlah dopamin neurotransmitter sebagai salah satu bentuk konsekuensi dari terjadinya perubahan secara degeneratif, selain itu pembuluh darah atau terjadinya peradangan pada ganglia basal yang ditandai juga dengan tremor otot ritmik, kekakuan pada gerakan, festination, postur tubuh yang miring, dan fasies maskilike.

Penyebab Penyakit Parkinson

Selain itu, penyebab yang diduga sebagai pemicu terjadinya penyakit parkinson adalah :

  1. Usia
    Kejadian yang semakin meningkat 10 dari 10.000 penduduk yang berusia 50 tahun, dan juga 200 dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini biasanya berhubungan dengan reaksi dari mikrogilial yang sangat mempengaruhi terjadinya kerusakan neuronal yang paling utama pada terjadinya substansia nigra pada penderita penyakit parkinson.
  2. Periode
    Fluktuasi dari jumlah penderita penyakit parkinson yang terjadi tiap periode kemungkinan berhubungan adanya hasil paparan dari lingkungan secara episodik misalnya adalah proses terjadinya infeksi, industrialisasi atau juga pada gaya hidup.
  3. Genetik
    penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yang memegang pernana penting pada oenyakit parkinson. Yakni mutasi pada gen.
  4. Faktor lingkungan
    Faktor lingkungan yang terjadi adalah infeksi, pekerjaan, xenobioti, diet, trauma pada kepala, stres dan depresi.

Diagnosis keperawatan yang dilakukan pada penyakit parkinson adalah ;

  1. Hambatan secara mobilitas fisik yang berkaitan dengan terjadinya kekakuan atau terjadinya kelemahan otot.
  2. Defisit perawatan diri yang masih berhubungan dengan kelemahan pada neuromuscular yang terjadi dengan menurunnnya kekuatan, kehilangan kontrol atau kehilangan koordinasi.
  3. Perubahan yang terjadi pada nutrisi yang kurang dari jumlah kebutuhan tubuh yang berhubungan erat dengan termor, proses makan yang melambat, susah mengunyah dan menelan makanan.
  4. Hambatan dalam melakukan komunikasi verbal yang berhubungan dengan terjadinya penurunan pada volume bicara, dan lainnya.

Gejala Penyakit Parkinson

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Patofisiologi Penyakit Parkinson

Patofisiologi Penyakit Parkinson – Penyakit parkinson adalah gangguan otak progresif yang ditandai dengan kehilangan neuron di area otak tengah yang dikenal sebagai subtansia nigra. Neuron ini menggunakan dopamin sebagai neurontransmitter dan menonjolkan aksonnya ke talamus dan area kaudatus dan putamen ganglia basalis.

Patofisiologi Penyakit Parkinson

Patofisiologi Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson

Patofisiologi Penyakit Parkinson terjadi ketika sekitar 80 % sel yang membentuk subtansia nigra hilang, ada juga penurunan reseptor dopamin di ganglia basalis. Awitan penyakit biasanya terjadi pada dekade keenam atau ketujuh kehidupan. Penyakit ini adalah penyakit neurodegeneratif yang paling sering kedua pada individu dewasa. Walaupun ada sedikit pengaruh genetik pada perkembangan penyakit parkinson, tampak sangat terbatas pada penyakit awitan dini (sebelum usia 50 tahun).

Epidemiologi Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson cukup sering ditemukan, mungkin mengenai 1-2 % populasi berusia lebih dari 60 tahun, tanpa adanya bias jenis kelamin yang signifikan. Distribusi ditemukan di seluruh dunia, walaupun tampaknya lebih sering terjadi di Eropa dan Amerika Utara.

Patologi Penyakit Parkinson

Penyakit parkinson terutama mengenai neuron dopaminergik yang berproyeksi dari subtansia nigra otak tengah sampai pada striatum ganglia basalis (nukleus kaudatus dan putamen). Secara makroskopis, didapatkan atrofi subtansia nigra pada penyakit parkinson tahap lanjut yang dikenali dari hilangnya pigmetnasi melanin pada regio ini . Secara mikroskopis, didapatkan kerusakan berat neuron pada subtansia nigra dan neuron yang tersisa seringkali mengandung badan inklusi intrasel, yaitu badan Lewy. Gejala penyakit parkinson telihat jika keruskan neuron dopaminergik nigrostriatum telah mencapai 60-80 %.

Patofisiologi penyakit parkinson hingga saat ini masih belum diketahui penyebab pastinya. Sehingga masih belum diketahui cara penyembuhan yang tepat pada penyakit ini, adanya banyak pilihan dalam perawatan yang dilakukan seperti pemberian obat parkinson dan melakukan operasi untuk membantu mengatasi gejala yang terjadi secara simptomatik. Penyakit parkinson adalah salah satu bagian dari parkinsonism yang secara patologi ditandai dengan adanya degenerasi pada ganglia basalis yang paling utama dibagian substansia nigra pars kompakta atau SNC yang kemudian disertai juga dengan adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik.

Depresi atau stres yang muncul akibat penyakit parkonson ini bisa datang di tahap apapun pada penderita penyakit parkinson. Bahkan sebelum munculnya gangguan pada sistem motorik, dan bisa mengakibatkan munculnya dampak yang lebih signifikan untuk kualitas hidup si pasien yang bersangkutan tadi. Hingga saat ini penyakit parkinson sendiri masih sulit untuk ditegakkan diagnosanya dengan lebih akurat. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 25-35% diagnosa yang salah bukanlah suatu hal yang jarang terjadi. Contoh sampel dari jaringan otak adalah salah satu metide diagnosis yang lebih pasti. Namun saat ini belum ada tes darah atau juga tes lab yang sudah terbukti bisa membantu untuk menegakkan diagnosis dari penyakit parkinson. Oleh sebab itulah, diagnosis yang dibuat dari penyakit parkinson berdasarkan dari riwayat perjalanan penyakit dan juga melakukan pemeriksaan secara neuruologis.

Diagnosis Penyakit Parkinson

Dalam melakukan diagnosa penyakit parkinson maka dibutuhkan Unified Parkinson’s Disease Rating adalah sebagai salah satu alat klinis yang paling utama digunakan dalam membantu menegakkan diagnosa dan juga menentukan derajat dari tingkat keparahan penyakit parkinson. Tanda dan gejala dari penyakit parkinson secara dini kadang harus dikesampingkan sebagai salah satu bentuk efek dari proses terjadinya penuaan yang lebih normal. Karenanya klinisi kemungkinan juga perlu dilakukan untuk membantu mengobservasi orang tadi selama beberapa waktu sampai terlihat jelas bahwa gejala-gejala yang dimaksud tadi adalah memang secara konsisten. Sebuah diagnosis pada penyakit parkinson membutuhkan adanya suatu tanda-tanda cardinal berikut ini, misalnya adalah tremor distal disaat sedang istirahat dengan ukuran sekitar 3-6 Hz, Rigiditas, bradikinesia, dan juga onset asimetris. Tanda-tanda lainnya yang lebih sering dikenal adalah meliputi seperti instabilitas pada postural dengan onset yang melambat, serta penciuman yang mulai berkurang dan menurun dan terjadinya mikrofagia.

Manajemen dari penyakit parkinson dilakukan dengan 3 tahap :

  1. Terapi yang pertama atau awal dilakukan dengan permulaan dan medikasi dopaminergik dan periode bulan madu yang akan berlangsung paling tidak selama 3-6 tahun.
  2. Manajemen dari penyakit parkinson dengan kasus yang lebih parah, dan termasuk salah satunya adalah fluktuasi motorik dan juga diskinesia.
  3. Manajemen dari status mental yang mengalami perubahan.

Setelah adanya suatu konfirmasi dari diagnosis, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan pertimbangan apakah pasien memiliki disabilitas yang jumlahnya cukup sehingga memang dibutuhkan penggunaan dari pengganti dopamin. Penggantian dari dopamin ini biasanya hanya diberikan untuk pasien dengan kesulitan dalam melakukan suatu aktivitas sehari-harinya, kesulitan dalam berjalan atau juga pada pasien yang mengalami gangguan saat bekerja. Kemudian pasien akan baru didiagnosa dengan kasus penyakit parkinson, namun masih belum membutuhkan penggantian dopamin. Adanya beberapa bentuk pilihan dari pengobatan misalnya adalah seperti Selegiline, Amantadine, Obat antikolinergik, dan Neuroprotektif.

Untuk penderita penyakit parkinson dimana sudah mulai adanya suatu gangguan pada aktivitas harian mereka dan dimana sudah terjadinya disabilitas yang kemudian diindikasikan dalam bentuk penggantian dopamin, sampai sejauh mana dopamin ini kemudian akan digantikan adalah sebagai salah satu yang bersifat sibyektif yang seperti sudah ditentukan oleh dokter dengan pasiennya. Selain itu juga bisa diberikan terapi misalnya seperti terapi agonis dopamin.

Patofisiologi Penyakit Parkinson

Posted in Penyakit Parkinson | Tagged , , , , , , | Leave a comment